• 021-31-118-118
  • info@idaqu.ac.id
  • Cipondoh, Tangerang, Banten
Berita Terkini
Prodi IAT IDAQU Selenggarakan Seminar Internasional Tentang Rasm Usmani

Prodi IAT IDAQU Selenggarakan Seminar Internasional Tentang Rasm Usmani

Senin, 28 Agustus 2023. Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Institut Daarul Qur’an Jakarta kembali mengadakan Seminar Internasional dengan tajuk “Mushaf Uthmani: Sejarah dan Perkembangannya dalam Menjaga Keotentikan Al Qur’an”. Acara ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa prodi IAT IDAQU dan dilaksanakan di gedung Institut Daarul Qur’an Jakarta. Narasumber terdiri dari Kaprodi IAT IDAQU yakni Khoirun Nidhom, Lc., MA dan Dekan Fakultas Ushuluddin IDAQU Mohamad Mualim, Lc., MA. Selain itu, dalam kegiatan ini turut hadir Kaprodi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir IAIN Sultan Amai Gorontalo yakni Dr Mustaqimah, MA serta dosen prodi IAT IAIN Sultan Amai Gorontalo yaitu Husni Idrus, Lc., MS.I. Tidak lupa pula pembicara dari luar negeri yakni Syaikh Huzaifah dari Kolej Islam Muhammadiyah Singapura. Namun, pembicara terakhir berhalangan hadir.

Acara yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB, turut serta dihadiri oleh Rektor Institut Daarul Qur’an Jakarta yakni Dr. Muhammad Anwar Sani, S.Sos.I, ME dan Wakil Rektor I bidang Akademik Marzuki, M.Kom. sebelum acara inti dimulai Rektor IDAQU menyatakan kekagumannya terhadap prodi IAT IDAQU yang begitu aktif dalam mengadakan acara seminar serta mengajak kepada seluruh hadirin untuk mengikuti acar dengan baik karena mengundang pemateri yang luar biasa datang dari Gorontalo menuju kampus IDAQU untuk berbagi ilmu mengenai Al Qur’an.

Selanjutnya pada inti acara yakni seminar diawali dengan materi yang dibawakan oleh Kaprodi IAT IAIN Sultan Amai Gorontalo yakni Dr. Mustaqimah. Sebelum membuka materi, beliau menjelaskan mengenai kasus pembakaran Al Qur’an yang terjadi di Swedia, karena itu ia berpendapat “Kita harus membela kitab suci kita, namun bukan dalam bentuk membakar kita suci agama lain. Tetapi, membela dengan membahasnya secara akademik”tegas Mustaqimah. Dosen Asal Pekalongan ini menjelaskan mengenai sejarah Mushaf Uthmani dimulai dari proses turunnya Al Qur’an secara gradual pada masa Rasulullah Saw hidup dilanjutkan dengan proses pembukuan Al Qur’an yang dilakukan oleh para Sahabat Nabi Saw. Dr. Mustaqimah juga menjelaskan mengenai pentingnya sanad Al Qur’an yang merupakan mata rantai keilmuan Al Qur’an. Ibu dua anak ini menjelaskan contoh sanad Al Qur’an di Nusantara yang bermuara pada KH Munawwir Krapyak hingga berlanjut pada murid-muridnya seperti KH Arwani Amin Kudus dan KH Muntaha Wonosobo. Beliau turut menjelaskan pula pengalaman belajar bersama KH Muntaha di Ponpes Al Asy’ariyah Wonosobo.

Materi selanjutnya dari Husni Idrus, Lc., MS.I yang menjelaskan secara rinci mengenai sejarah Mushaf Uthmani dan Imla’i beserta kaidah-kaidah yang diterapkan dalam Mushaf Uthmani seperti Ziyadah dan Hadzf. Bahkan dosen IAIN Gorontalo ini menjelaskan salah satu filosofi keberadaan bacaan Ghorib Musykilat yakni “Mengapa dibaca Bismillahirrahi Majreha bukan Majroha? Karena hal tersebut merupakan bacaan Imalah. Imalah berarti condong antara huruf A dan I jadi E. Makna filosofinya jika seseorang pergi naik kapal, maka kalau berada di tengah lautan, kapal akan condong ke kiri dan ke kanan” tegas Husni. Sebelum menutup pembahasannya, Husni menjelaskan mengenai pentingnya mempelajari studi Ilmu Al Qur’an agar tidak terjebak dalam opini menyesatkan yang disuarakan oleh orientalis seperti Theodor Noldeke juga Ignas Goldziher dalam karyanya yang selalu menyudutkan Al Qur’an.

Pemateri selanjutnya dari Dekan Fakultas Ushuluddin IDAQU yakni Mohamad Mualim, Lc., MA yang merefleksikan sejarah perkembangan Mushaf Uthmani. Pria asal Blora ini menjelaskan kepada peserta mengenai hikmah Al Qur’an yang dikodifikasi oleh Uthman bin Affan Ra. Jika Al Qur’an tidak dibukukan secara resmi dan hanya berhenti pada tahap hafalan, maka konsekuensinya umat Islam tidak akan mengenal Al Qur’an seperti yang ada di hari ini. Beliau juga mencoba mengaitkan dengan sejarah kerajaan di Nusantara yang meninggalkan warisan berupa naskah-naskah baik yang berbahasa Pallawa, Sansekerta, aksara Hanacaraka hingga Pegon. Semua bertujuan agar generasi selanjutnya mengenal kembali sejarah masa lampau.

Pemateri terakhir yakni Kaprodi IAT IDAQU yakni Khoirun Nidhom, Lc., MA. Pria yang berpengalaman dalam dunia Musabaqoh Tilawatil Qur’an ini menambahkan penjelasan dari Husni Idrus mengenai bentuk-bentuk tulisan yang ada pada masa Pra Islam seperti Heliograf Mesir, Aksara paku ala Akkadia hingga model bahasa tulis yang seperti kode angka seperti yang terjadi pada generasi muda 90-an. Dosen yang fasih dalam membaca aksara Arab dan Cacarakan ini juga mengingatkan akan pentingnya memahami kaidah yang diterapkan dalam Mushaf Uthmani supaya para pecinta studi Al Qur’an selain dapat membaca dan menghafal Al-Qur’an, mereka juga mampu menulis Kalam Allah SWT ini sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh para sahabat. Eksistensi penulisan Al Qur’an berkembang pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw, sehingga Kaprodi IAT ini membuka cakrawala peserta yang hadir baik daring (online) maupun luring (offline).

Penutup acara dilanjutkan dengan foto bersama antara pemateri dan peserta lalu dilakukan serah terima cenderamata. Semoga acara ini menjadi sarana untuk menguatkan kerjasama antara IDAQU Jakarta dengan perguruan tinggi Islam lain baik kancah nasional maupun internasional. Wallahu A’lam Bis Showab.

29 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *