• 021-31-118-118
  • info@idaqu.ac.id
  • Cipondoh, Tangerang, Banten
Berita Terkini
Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Daarul Qur’an Jakarta mengadakan Webinar Nasional dengan UIN Raden Mas Said Surakarta

Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Daarul Qur’an Jakarta mengadakan Webinar Nasional dengan UIN Raden Mas Said Surakarta

Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Daarul Qur’an Jakarta melakukan kolaborasi dengan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta untuk menggelar Webinar Nasional dengan tema “Interelasi Tafsir dan Budaya” pada Selasa (25/10).

Adapaun pemateri pada webinar kali ini Tsalis Muttaqin, Lc., M.S.I Dosen Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dari Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta serta Ida Kurnia Shofa, M.Ag, Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dari Institut Daarul Qur’an Jakarta.

Sebagai pemateri, Tsalis Muttaqin membahas tentang relasi antara teks, penafsir dan realitas. Dalam materinya ia menjelaskan tentang perbedaan antara Al-Qur’an yang diturunkanpada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Al-Qur’an sepeninggalan Rasulullah SAW.

Selain itu Tsalis juga membahas tentang tugas tafsir, diantaranya sebagai berikut:

  1. Penafsiran harus sesuai dengan zamannya, sehingga tidak terkesan usang dan dapat di aplikasikan oleh masyarakat seseai dengan kebutuhan zaman.
  2. Dalam mengkontektualisasikan ayat berupaya untuk menyesuaikan bahasa penafsiran dengan realitas sosial.
  3. Untuk mempertahankan universalitas Al-Quran ketika menafsirkan ayat dengan konteks kekinian harus tetap memperhatikan konteks awal ayat (asbabun nuzul).
  4. Terlalu mendominasi tradisi atau penafsiran klasik tanpa melakukan kritik baik dari sisi materi maupun metodologinya justru akan mengurangi universalitas Al-Qur’an.
  5. Langkah ini diambil untuk menghindari penafsiran atau pemahaman secara turun temurun yang belum tentu semuanya benar dan tidak seluruhnya mampu menjawab tantangan zaman.

Sementara itu Ida membahas tentang sebuah pelestarian dan peneguhan identitas. Ida mencontohkan lokalitas tafsir Al-Ibri karya Bisri Musthafa. Dalam lokalitas penulisan Kitab dengan Bahasa Jawa sebagai bentuk pemanfaatan Bahasa lokal dalam penafsiran sebab audiensnya adalah masyarakat Jawa. Selain itu dalam tafsir ini juga menggunakan aksara pegon sebagai media utama penulisan tafsir dan menggunakan makna menggantung (makna gandul) untuk memaknai kata per kata.

Sementara menurut lokalitas penafsiran, Kitab ini menggunakan ungguh-ungguh khas Jawa, baik dari segi beretika/ berakhlak maupun berkomunikasi. Hal ini di buktikan dengan adanya hierarki Bahasa (level of speech) dalam penerapan ungkapan komunikasi sekaligus penerapan simbolisasi penghormatan dalam bentuk sapaan.

Tags: IdaqukampusmahasiswatangerangUIN

187 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *