Kontak :

021-31-118-118

Email :

prodi-iat@idaqu.ac.id

Perjalanan Akademik dan Jejak Sejarah: PKM Prodi IAT IDAQU Jakarta di Bogor dan Sukabumi


Sebuah perjalanan singkat tidak selalu berarti sederhana. Terkadang, dalam rentang waktu yang terbatas, tersimpan pengalaman intelektual, spiritual, dan historis yang begitu kaya. Demikianlah yang dirasakan oleh tim Fakultas Ushuluddin Institut Daarul Qur’an (IDAQU) Jakarta dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan pada 10–11 Februari 2026, bertepatan dengan akhir bulan Sya’ban 1437 H.


Tim yang terdiri dari dosen Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Ilmu Hadis yakni Dr. Mohamad Mualim, Lc., M.A., Khoirun Nidhom, Lc., M.A., Jaka Ghianovan, S.Th.I, M.Ag., Dr. Ida Kurnia Shofa, M.Ag. dan Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M.Ag. memulai perjalanan menuju Pesantren Tahfizh Takhassus Daarul Qur’an Cinagara, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Tema yang diangkat oleh Prodi IAT adalah:
“Pendampingan Literasi Tafsir Digital untuk Menangkal Distorsi Makna Ayat Al-Qur’an di Media Sosial.”


Pesantren Takhassus Cinagara: Ruang Belajar di Tepi Sungai


Rombongan berangkat pukul 08.30 WIB dari kampus IDAQU Jakarta dan tiba sekitar pukul 11.00 WIB di Pesantren Takhassus Cinagara. Pesantren ini memiliki konsep bangunan rumah panggung dengan suasana asri karena terletak di tepi Sungai Cinagara, yang mengalir dari kawasan pegunungan dan menjadi sumber manfaat bagi masyarakat Caringin dan Cigombong.
Pesantren Takhassus Cinagara berada di bawah naungan Daarul Qur’an dan memiliki kekhasan dalam bidang tahfizh Al-Qur’an. Berbeda dari pesantren DAQU lainnya, lembaga ini menitikberatkan pembinaan santri pada penguatan hafalan Al-Qur’an secara intensif. Saat ini jumlah santri tercatat sekitar 30 orang.
Setelah salat Zuhur, sesi pertama PKM dimulai oleh perwakilan Prodi Ilmu Hadis yakni Dr. Muhammad Asgar Muzakki, Lc., M.Ag. yang membahas peran hadis dalam merespons perkembangan Artificial Intelligence (AI). Diskusi berlangsung interaktif meskipun pada awalnya para santri tampak pasif. Namun, seiring berjalannya waktu, pertanyaan mulai bermunculan dan suasana diskusi menjadi lebih dinamis.


Pada sesi berikutnya, Prodi IAT yakni Dr. Ida Kurnia Shofa, M.Ag. dan Khoirun Nidhom, Lc., M.A. menyampaikan dua materi utama:
AI dalam Perspektif Al-Qur’an dan Tafsir, serta
Strategi Efektif Menghafal Al-Qur’an.
Materi disampaikan dengan pendekatan metodologis dan kontekstual. Para pemateri mengajak santri untuk melihat bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipahami secara komprehensif tanpa terjebak pada reduksi makna di media sosial. Pendekatan dialogis terus diupayakan untuk membangun kultur diskusi dua arah, sebuah proses yang memang memerlukan pembiasaan.
Kegiatan ini bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga proses belajar bersama. Refleksi penting muncul bahwa literasi tafsir digital bukan hanya kebutuhan akademik, melainkan kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi.


Menyusuri Jejak Ulama di Cicurug Sukabumi


Keesokan harinya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pesantren Al-Hasaniyah di Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Pesantren yang berdiri sejak tahun 1870 ini termasuk salah satu pesantren tertua di wilayah tersebut dan memiliki nilai historis yang kuat.
Secara geografis, Cicurug memiliki tata ruang yang unik: kantor kecamatan berdiri berseberangan dengan Masjid Al-Hurriyyah, pasar berada di jalur utama Bogor–Sukabumi, dan di balik permukiman tampak Gunung Pangrango berdiri kokoh. Rombongan kemudian menyusuri gang di Kampung Babakan Kaum hingga tiba di kediaman pengurus pesantren.


Pesantren Al-Hasaniyah didirikan oleh KH Muhammad Hasan Basri, yang lebih dikenal sebagai Mama Bintang. Dalam tradisi Sunda, sebutan “Mama” merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh yang dituakan.
Di rumah pengurus pesantren, Ajengan Rahmat Fauzi—keturunan pendiri sekaligus alumni Pesantren Tambak Beras Jombang—rombongan disambut dengan hangat. Diskusi berkembang bukan hanya mengenai sejarah pesantren, tetapi juga mengenai dinamika dakwah ulama Sunda dalam menghadapi kolonialisme.


Mama Bintang dan Ajengan Sanusi: Dua Strategi Dakwah


Dalam penuturan Ajengan Rahmat, Mama Bintang hidup sezaman dengan KH Ahmad Sanusi dari Gunung Puyuh Sukabumi, seorang pahlawan nasional. Keduanya memiliki pendekatan berbeda dalam berdakwah dan merespons kolonialisme Belanda.


KH Ahmad Sanusi memilih jalur perjuangan terbuka, mendirikan organisasi Al-Ittihad Al-Islamiyyah (kemudian menjadi Persatuan Umat Islam/PUI) dan menulis tafsir dalam bahasa Sunda dan Melayu. Sementara itu, Mama Bintang lebih fokus pada penguatan pendidikan pesantren dan pengajian Tafsir Jalalayn dalam bahasa Sunda.


Tradisi pengajian tafsir di Pesantren Al-Hasaniyah bahkan telah berlangsung sejak tahun 1925 hingga hari ini, dengan jamaah yang beragam: santri, masyarakat umum, hingga aparatur pemerintah setempat.


Salah satu temuan paling menarik dalam kunjungan ini adalah diperlihatkannya dokumen perjalanan haji Mama Bintang tahun 1904, berbahasa Belanda dan Melayu huruf pegon, berjudul Reispas Naar Mekka. Dokumen tersebut menjadi bukti historis mobilitas ulama Nusantara pada masa kolonial.


Pengalaman melihat langsung arsip tersebut menghadirkan kesadaran bahwa ulama masa lalu bukan hanya figur spiritual, tetapi juga aktor sosial-politik yang memiliki jaringan internasional.
Refleksi Akademik dan Kultural
Perjalanan ini memberikan pelajaran penting bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya ruang berbagi ilmu, tetapi juga ruang belajar sejarah, budaya, dan dinamika sosial. Dari Cinagara hingga Cicurug, tampak jelas bahwa pesantren bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan pusat peradaban lokal yang membentuk karakter masyarakat.


Bagi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IDAQU Jakarta, kegiatan ini menegaskan pentingnya:
Mengintegrasikan literasi tafsir dengan tantangan digital kontemporer,
Menguatkan metodologi tafsir yang kontekstual dan bertanggung jawab,
Serta membaca sejarah sebagai bagian dari kesadaran akademik.
Perjalanan ditutup dengan salat jamak di mushala peninggalan Mama Bintang sebelum kembali ke Jakarta. Sebuah perjalanan singkat, namun sarat makna—mengingatkan bahwa setiap wilayah menyimpan potensi intelektual dan historis yang layak digali.


Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari ikhtiar panjang membumikan Al-Qur’an melalui pendekatan akademik yang kokoh sekaligus berpijak pada tradisi.

About the Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these